Kamis, 19 April 2012

Hasil Tahun Ini..

Ma'af Karena Kesibukan di Pekerjaan saya , Jadi tidak sempat lagi mengUpdate Blog ini.
Mungkin saya cuma bisa melaporkan hasil Event Pencak Silat di Kabupaten Kubu Raya.

Pada Tanggl 23 s.d 25 Maret 2012 telah di adakan Seleksi POPDA tikat Kabupaten Kubu Raya.
Untuk Cuyusika Sendiri Di wakili oleh 3 Ranting yakni Rasau Jaya, Pinang dalam dan Bayangkari Sungai Raya.

Cuyusika Mengirimkan Atlit hampir di setiap kelas kecuali seni beregu, dan Alhamdulillah kami mendapatkan hasil yang cukup membanggakan.
dari 16 Kelas laga yang di pertandingkan kami mendapatkan 5 Emas ,3 Perak, 9 Perunggu

Tentang : Hasil Seleksi POPDA Kab. Kubu Raya
Cabang Panca Silat
NoNamaAsal SkolahKelas JuaraKet
123456
1RendiSMAN 2 SERAA/PA1
AfifurrahimSUPM 2
M.ilyasMTs Rd. Islam 3
AlpianSMP Karya Nyata 3
2MaharaniMTs Rd FalahA/PI1
Lela PitrianiSMPN 2 Kakap 2
RianaSMA Bayangkari 3
Ika RahayuMTs Rasau Jaya 3
3M.syabandiSMPN 2 KakapB/PA1
YudistiraMTs Rd. Islam 2
SandriSUPM 3
RobiSMP Karya Nyata 3
4Ade RizkySUPMB/PI1
JuliantiSMA Bayangkari 2
MiftaMTs Rasau Jaya 3
NurhalimahSMA Rd Falah 3
5M.HariantoSMP 2 kakapC/PA1
PututSMP 5 kubu 2
Rian PranataSMP 2 Ambawang 3
FahrurroziMTs AL-kautsar 3
6YulianaSMA 1 Rasau JayaC/PI1
CesaSMP 1 SERA 2
FitrianiSMAN 1 Rasau Jaya 3
DeffiMTs . Rasau Jaya 3
7Rendri MSMPN 2 KakapD/PA1
HelmiSMK Bina Khatulistiwa 2
JamaludinSMA Pelangi 3
Dede RiyantoSMA AL- iklhas 3
8TiaSMP 8 KakapD/PI1
PutriSMA Bayangkari 2
NovaSMA 1 Rasau Jaya 3
LisaSMK Pembangunan 3
9RahmadSMK 1 Rasau JayaE/PA1
YohanesSUPM 2
WaliansyahMTs Mittahussalam 3
Rudi HartonoSMPN 3 Kubu 3
10TaniaMAN 1 Kubu RayaE/PI1
CicaSUPM 2
NurulMTs. Rasau Jaya 3
MulyaniSMAN 1 Kakap 3
11Bekti PurwoSMA 1 SeraF/PA1
Arif Dwi KMAN 1 Kubu Raya 2
KurniawanSMP 3 Kubu 3
M.RidwanSMP 2 kakap 3
12TariSUPMF/PI1
Anita RahayuSMPN 3 Sungai Durian 2
LinuriSMA Bayangkari 3
FatimahSMP 13 Sungai Adong 3
13Tri PrawirawantoSMPN 1 Rasau JayaG/PA1
JakaSMAN 2 Parit Mayor 2
Andi LSUPM 3
Bimas AgungMA . AL-Ikhlas 3
14Eva MisnawatiSMAN 1 Rasau JayaG/PI1
RahmawatiSMA Pelangi 2
YulianaSUPM 3
DesiSMA Bayangkari 3
15HariadiMAN 1 Kubu RayaH/PA1
HermanSMPN 1 Rasau Jaya 2
BagusSMAN 2 SERA 3
DoriMTs. Rasau Jaya 3
16Yuni AnsariMTs. Rasau JayaI/PA1
GalihMAN 2 Rasau Jaya 2
M. YanuariMAN 1 Kubu Raya 3
Kharis MaulanaSMPN 2 Kakap 3
TUNGGAL PUTRA
NO.NAMAASAL SEKOLASCORJUARAKet.
1Rian Ahma BiansyahSDN 18 Kakap4401
2HabibiSMP 5 Kakap4202
3AldionoSMP 1 Sera4113
TUNGGAL PUTRI
NO.NAMAASAL SEKOLASCORJUARAKet.
1MeldaSDN 09 Kakap4321
2Putry RahayuSMPN 5 Kakap3952
3Cahnur RizkySMA Taman Mulia3913
BEREGU PUTRA
NO.NAMAASAL SEKOLASCORJUARAKet.
1Muhammad Rivi Giansyah 1
2Hidra HariantoSMP Bumi 2
3Sumarlin Eka PrasetioKatulistiwa 3


Keterangan :
Cetak Tebal Atlit Cuyusika


Sedangkat Untuk O2SN Kami Mengirimkan 3 Atlit

Yakni : NOVA, GILANG, HENDRIK.

Alhamdulillah kami mendapatkan 2 Emas dan 1 Perunggu.

Terima Kasih atas Do'anya Pak Guru, Dan Para Pendekar Cuyusika Dimanapun berada.
Mohon Dukungannya nanti pada POPDA tingkat Provinsi dan O2SN Tingkat Provinsi, semoga kita mendapatkan Hasil Yang Maksimal. .. Amin..

Minggu, 18 Desember 2011

Pergeseran Tren

Semakin hari dunia anak muda semakin gak karuan, pergeseran tren memang semakin membuat kekhawatiran. Coba lihat kehidupan anak muda zaman sekarang, ngedrag, kebut-kebutan di jalan, seks bebas, bahkan dalam rapat Koordinasi Kecamatan yang saya Ikuti beberapa waktu lalu, Aparat pemerintah mengungkapkan fakta yang membikin saya mengelus dada. Apakah separah ini kehidupan anak muda zaman sekarang, bagaimana tidak di beberapa titik bangunan-bangunan kosong banyak di temukan kondom-kondom bekas yang berceceran. belum lagi bekas minuman keras.

beginilah potret remaja sekarang..

Semoga Masih Ada Remaja Yang Berfikiran Positif untuk masa depan Indonesia dan dirinya Sendiri... MAJU TERUS PERSILATAN INDONESIA...
BENTUK REMAJA YANG TANGGUH SEBAGAI CIRI KEPRIBADIAN TRADISONAL INDONESIA....
SEMOGA ALLAH MENJAGA REMAJA-REMAJA KITA DARI PENGARUH NEGATIF PERGAULAN BEBAS.
AMIN...

Jumat, 20 Mei 2011

Dewi Yanti Kosasih,mantan pesilat putri Jawa Barat.

UNTUK ukuran atlet, tubuh Dewi terbilang mungil. Tingginya hanya 154 cm. Jika berhadapan dengan lawan yang bertubuh tinggi besar, tendangan yang masuk ke tubuhnya sangat berarti. Patah tulang di sekujur tubuhnya tak pernah menjadi alasan Dewi menghentikan langkah. Jika sekadar jempol patah atau kaki bonyok, Dewi pantang berhenti bertarung. Kalaupun berhenti biasanya karena pertandingan dihentikan wasit .

Biar lawan jauh lebih besar, badan sakit-sakit kena tendang, masa bodoh! Saya harus menang. Pulang harus bawa medali, Begitu selalu tekad Dewi Yanti Kosasih (40), mantan pesilat putri Jawa Barat.

Pada masa jayanya, ia sering mengharumkan dunia persilatan Jawa Barat hingga ke tingkat dunia. Medali yang pernah dibawanya pulang antara lain dari Kejuaraan Dunia Kuala lumpur 1989, Kejuaraan Dunia Belanda 1991, SEA Games Singapura 1993, dan Thailand Open 1992. Belum masuk hitungan puluhan medali yang disambarnya di arena PON (Pekan Olahraga Nasional) atau Porda (Pekan Olahraga Daerah).

Dia tuh memang obsesif. Kalau belum dapet sesuai target, belum berhenti, tambah suaminya, Dani Wisnu (42), juga pesilat tingkat dunia yang kini menjadi pelatih di pelatnas sebagai persiapan Indonesia Bangkit 2005

Perempuan tomboy yang suka berbicara ceplas-ceplos ini mengaku karena obsesifnya mengejar target itulah ia bisa menjadi pesilat tangguh. Saya baru mengenal silat ketika usia 20 tahun. Sayalah yang tertua di antara teman-teman seangkatan di Perguruan Tajimalela. Tetapi saya bertekad, harus bisa menjadi juara seperti senior-senior saya, ceritanya.

Tak ada kata terlambat bagi Dewi. Pada usia 21 tahun, saat teman-teman sebayanya sudah merasakan pertarungan yang sesungguhnya di berbagai even, Dewi baru menapakkan kakinya.

Keinginannya berprestasi terpengaruh dari kegemarannya membaca buku biografi orang-orang terkenal. Semula ia sendiri tak tahu harus berprestasi di bidang apa. Sampai suatu ketika Dewi yang juga aktivis masjid di dekat rumah orang tuanya dahulu, wilayah Sekelimus Bandung, berjalan melintasi perguruan silat Tajimalela. Tak banyak berpikir, Dewi menghentikan langkahnya dan langsung mendaftarkan diri. Semula ayahnya, Achmad Kosasih, mantan penjaga gawang Persib menentang keinginan putrinya masuk perguruan silat.

Ayah takut, saya terbawa pergaulan tidak benar. Beliau bilang itu sih tempatnya ‘jawara wungkul’. Masa itu silat memang identik dengan kalangan masyarakat bawah, ujar Dewi.

Tetapi Dewi tidak terseret arus. Seiring berjalannya waktu silat bahkan membuktikan bisa mengharumkan Indonesia di mata dunia. Dewi pun bertekad ambisi dan obsesinya tidak boleh sebatas benak alias hanya angan-angan. Semua harus diiringi tindakan nyata. Saat pertama masuk perguruan silat Tajimalela, ia langsung menetapkan target demi target. Mula-mula saya incar seorang pesilat putri, saya harus menang melawan dia. Begitulah seterusnya. Setiap saya mengincar seorang calon lawan, saya selalu memiliki target untuk menang. Untuk dapat menang saya tidak dapat bersantai-santai. Saya latihan lebih keras dari yang lainnya, ceritanya.

Jika pesilat lainnya berlatih hanya seminggu 2 atau 3 kali, Dewi mendisiplinkan dirinya untuk berlatih setiap hari! Paling siang saya pulang ke rumah jam 8 malam, seringnya jam 11 malam, imbuhnya. Ia tidak hanya berkutat di unit latihan (unlat)-nya sendiri. Ia juga rajin jalan-jalan dan mencoba berbagai unlat-unlat lainnya.

Selain itu ia juga mendapat genjotan fisik dari ayahnya. Setelah tahu saya tak main-main di dunia silat, ayah saya mendukung bahkan melatih fisik saya.

Kendati telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, jalan tak selalu mulus di hadapannya. Dewi baru bisa tembus mewakili Indonesia ke arena SEA Games pada tahun 1993 setelah sebelumnya tiga kali gagal menembus arena bergengsi ini. Untuk berbagai prestasinya Dewi dianugerahi Presiden Soeharto penghargaan berupa Parama Krida Pratama, penghargaan pemerintahan bagi warga negara berprestasi.

Sayang, masa keemasan bangsa Indonesia di dunia silat saat ini mulai suram. Ketika Dewi dan Dani masih malang melintang di dunia silat, dunia persilatan Indonesia dengan kokoh bertengger di puncak kejayaannya. Indonesia selalu nomor satu. Kini posisi Indonesia menjadi yang ketiga setelah Vietnam dan Malaysia.

Menurut Dewi dan Dani, kemerosotan prestasi ini lebih kepada soal mentalitas anak bangsa. Saat ini Dani mengaku sulit menemukan bibit pesilat yang berkarakter.

Gaya hidup remaja sekarang juga sangat berpengaruh pada prestasi silat kita. Anak-anak sekarang kalau disuruh berlatih silat, ya hanya sesuai jadwal pengurus saja. Di luar itu mereka tak mau mencari tambahan, tambah Dewi.

Diakui Dewi, saat masih menjadi atlet ia juga merasakan masa-masa manisnya remaja berpacaran. Saya pacaran dengan Dani, dan banyak lagi pesilat pacaran dengan pesilat. Tetapi itu tak memengaruhi prestasi kami. Saatnya serius, kami serius, cerita Dewi.

Mungkin soal fasilitas juga ada pengaruhnya. Dibandingkan Vietnam yang kini membina 50.000 atlet silat secara serius dengan dana yang luar biasa, kita Indonesia sulit menandinginya. Jelas Dani yang juga pengurus Pengda IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Jawa Barat.

Soal fasilitas, menurut Dewi, jauh lebih baik pesilat sekarang. Dulu kami prihatin sekali. Sampai-sampai mau bertanding saja kita hanya mampu makan kangkung dan ikan asin. Padahal sebagai atlet kita memerlukan nutrisi yang baik, kenang Dewi.

Sebagai cabang olah raga yang berakar asli Indonesia, silat memang tak mungkin menunggu uluran tangan negara induk olah raga, seperti Taekwondo yang di-support oleh Korea atau Karate dan Kendo oleh negara asalnya Jepang.

Tetapi cabang silat kini juga lumayan terbantu dengan masuknya Pak Rachmat Gobel dari Panasonic sebagai salah seorang pengurus IPSI. Saya berharap pemerintah juga mau bahu- membahu memajukan kembali olah raga ini, harap Dani.

**

SECARA pribadi, silat juga sudah membuahkan hasil yang manis bagi keluarga pesilat ini. Yang jelas, dapet jodoh juga dari silat he..he..he, kata Dewi.

Dani adalah seniornya di Tajimalela. Dia itu dulu uwak guru. Yang jadi guru saya sebenarnya adiknya Kang Dani, kenang Dewi.

Baik Dani dan Dewi memperoleh pekerjaannya di pemerintahan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung ini karena prestasi mereka juga. Anak sulung mereka, Ahmad Yusuf Ferdian, menjadi mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Jurusan Pelatihan karena prestasinya di dunia silat juga. Pada Porda 2003 di Indramayu, Yusuf berhasil menggaet medali perak untuk Kabupaten Bandung. Lucunya, saat itu Yusuf harus bersaing dengan ibunya yang mewakili Kota Bandung dalam memperebutkan medali bagi perwakilan kota masing-masing. Saat itu Dewi masih mampu menggaet medali emas.

Karena sama-sama pesilat, pasangan ini selalu nyambung. Untuk bertanding membela negara, kita juga sering pergi bareng ke luar negeri. Tapi penginapan sih masing-masing sesuai aturan untuk atlet putra dan putri lo, kata Dewi.

Walaupun tahun ini ia mulai pensiun sebagai atlet, bukan berarti Dewi meninggalkan dunia yang telah dikecap asam manisnya ini. Di rumahnya yang berhalaman luas, ia mendirikan unlat silat untuk regenerasi pesilat-pesilat Indonesia. Tercatat 30 anak dan remaja di bawah bimbingannya, termasuk anak bungsunya Hanifan Yudani Kusumah , yang baru duduk di bangku kelas 1 SD.

Kami tak pernah menyuruh anak untuk mengikuti jejak saya dan ayahnya. Mungkin karena lingkungannya silat semua, ia jadi sangat tertarik, kata Dewi

Sebagai balas budi pada dunia yang telah membesarkannya, Dewi berobsesi ingin menjadi pelatih silat yang bagus. Namun kesempatan itu belum ada, katanya. Maksudnya, kesempatan melatih dalam skala lebih besar selain di unlat.***

Uci Anwar
www.pikiran-rakyat.com

www.silatindonesia.com